Di balik gemerlapnya industri pertambangan dan narasi pertumbuhan ekonomi yang diagung-agungkan, tersimpan luka sosial dan ekologis yang dalam—terutama di Sumbawa Barat, tempat PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) menjalankan operasi tambangnya. Apa yang terlihat sebagai simbol kemajuan sejatinya menyembunyikan jejak kejahatan sosial dan lingkungan yang sistematis dan berulang.
Kejahatan sosial terjadi ketika kehidupan masyarakat lokal dikorbankan demi kepentingan modal. Pemutusan hubungan kerja secara massal pasca-transisi dari PT Newmont ke AMNT bukan hanya soal kehilangan pekerjaan, tapi soal runtuhnya tumpuan hidup ribuan keluarga. Ironisnya, program CSR yang digembar-gemborkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial, justru menyisakan pertanyaan besar: untuk siapa sebenarnya program ini ditujukan? Ketika beasiswa, pelatihan, dan bantuan ekonomi hanya menyentuh segelintir kalangan, maka keadilan sosial menjadi ilusi belaka.
Di sisi lain, kejahatan lingkungan yang dilakukan oleh korporasi ini tak kalah serius. Eksplorasi di wilayah yang belum tersentuh secara ekologis seperti Blok Elang membuka risiko kerusakan permanen terhadap hutan tropis, sumber air bersih, dan keanekaragaman hayati. Pencemaran lingkungan akibat aktivitas pertambangan bukan sekadar efek samping; ia adalah bentuk kekerasan terhadap alam yang terjadi secara terencana namun minim pengawasan.
Yang lebih memprihatinkan adalah lemahnya pengawasan negara. Ketika korporasi dibiarkan beroperasi dengan minim transparansi, tanpa keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, maka negara secara tidak langsung turut serta dalam membiarkan kejahatan ini berlangsung. Suara-suara kritik dari masyarakat sipil dan lembaga independen seperti Pemerhati Kebijakan Institute (PK Institute) kerap dipinggirkan, seolah tak punya tempat di tengah euforia investasi.
Kita harus mulai menyebut masalah ini dengan nama yang tepat: ini bukan sekadar “dampak negatif”, melainkan kejahatan terhadap manusia dan alam. Karena yang dirampas bukan hanya hak hidup layak, tetapi juga masa depan generasi yang akan datang. Sudah saatnya negara berdiri di pihak rakyat dan lingkungan, bukan hanya pada barisan pemilik modal.
0 Komentar