Recents in Beach

Refleksi Hari Sumpah Pemuda, AIMI Gelar Konsolidasi Intelektual Kepemudaan


Dalam rangka refleksi Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober kemarin, Asosiasi Intelektual Muda Indonesia (AIMI) gelar dialog publik sebagai langkah konsolidasi intelektual kepemudaan dalam mengisi pos-pos kritis dalam mengawal jalannya roda pemerintahan berjalan sesuai konstitusi.

Acara tersebut mengusung  tema "Jejak Kepemudaan Dalam Narasi Kebangsaan" di gelar di Cafe Takuy 99 Ciputat Timur Tangerang Selatan Kamis, 30/10/2019.

Ketua umum AIMI, Idham Mustakim yang juga merupakan salah satu narasumber mengatakan ruang-ruang rasionalitas harus dibuka selebar-lebarnya dalam rangka mengaktifkan kembali semangat gerakan mahasiswa dan pemuda yang kini mulai memudar bahkan mati di era modern ini.

"AIMI hadir dalam rangka mewadahi mahasiswa dan pemuda untuk hadir ditengah pertarungan dan persaingan era modern dengan kemampuan nalar kritis rasional", ungkap dosen Sadra ini.

Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Political Studies (IPS) Al Farisi menyampaikan, gerakan pemuda era milenial ini harus terkonsolidasi dengan baik dan berlandaskan gagasan-gagasan atau ide-ide besar dalam membaca masalah sosial.

"Aimi telah memulai konsolidasi intelektual dan saya berharap ruang-ruang intelektual seperti ini akan terus di buka tiap minggunya. Perlu diketahui bahwa Peristiwa 28 Oktober 1928 merupakan konsolidasi intelektual yang terkonsolidasi dengan baik dan semangat itu harus kita warisi", Tegas Al Farisi.

Ia menambahkan, persoalan pemuda, kaum tua dan terpelajar dewasa ini yakni terjadi degradasi moral intelektual etik kebudayaan dan lainnya menjadi patologi sosial.

"Di Era yang serba digital ini, mahasiswa dan pemuda malah rajin berkomentar di medsos bukan membaca, berdiskusi dan menulis yang pada akhirnya menghasilkan gagasan-gagasan besar sebagai sumbangsih nyata buat perbaikan bangsa dan negara", terangnya.

Sedangkan narasumber lainnya, Babur Rahman dari Aktifis Jaringan Filsafat Islam (JAKFI) Jakarta juga menekankan keutamaan rasionalitas sebagi syarat mutlak yang harus dimiliki pemuda dan mahasiswa dalam menilai dan menghukumi masalah bangsa.

"Rasionalitas menjadi alat utama kita menghukumi masalah-masalah sosial dan bangsa. Tidak akan ada revolusi tanpa teori dan tidak akan ada teori tanpa pemikiran yang radikal", katanya.

Posting Komentar

0 Komentar